Time and Friends.
“Apa kabar sahabat-sahabatmu? Ko udah lama kalian ngga kumpul?
Pertanyaan yang sedikit menghentak sore ini. Ditanyakan oleh mama yang tiap hari tau persis apa yang gw lakukan dan dengan siapa gw berinteraksi.
Beberapa hari yang lalu akhirnya kami bertemu dalam satu moment. Tak lama namun setidaknya dapat meluapkan rasa kangen yang sudah membuncah.
Sebut saja sahabat-sahabatku. Ntah sudah berapa posts tentang mereka. Gw ngga pernah bosan untuk menceritakan mereka dan hal-hal kecil yang menjadikan mereka priceless.
I’d rather to lose a lover than a bestfriend
Waktu itu adalah pagi pertama gw mengalami patah hati. Malam sebelumnya adalah malam yang you-know-I-won’t-mention-it. Paginya mereka datang dan mengapit gw dengan keceriaan. Mereka ngga banyak bertanya, mereka menyuruh gw untuk senyum. Itu saja. Walau pun pada saat itu untuk senyum saja rasanya pusing.
Mengingat mereka menyempatkan untuk menghilangkan that pain, rasanya gw seperti I have all the best things in the world could offer.
Simpel. Mereka ngga perlu mengajak gw ke restoran fancy atau membelikan gw boneka onjoe, hanya sebagian dari waktu mereka. Itu saja.
Lucky I’m in love with my bestfriends
No, no it’s not that special feeling. Rasa sayang tidak selalu diartikan sebagai rasa yang kalian rasakan ke pacar. Ini perasaan sayang kepada sahabat di mana tidak ada jaim, jealous, careless, dan lainnya. Yang ada hanya rasa saling menyayangi and desire to make sure our bestfriends are happy.
Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk mengajak mereka berjumpa. Mengingat liburan sudah datang (walau pun gw dihadang KKNM dan UAS di bulan Januari).